
GOLKAR PEMENANG PEMILU 2009 DI SUMUT
Oleh : Sirajuddin Gayo, ST., MM., MPM.
Dua partai besar yaitu Partai Golkar dan PDIP akan berhadapan di Pemilu 2009 untuk merebut hampir 60 % pemilih Sumatera Utara yang tradisional-irasional dan kental ikatan psikologis. Pemilih tradisional ini cenderung hanya akan memilih tanda parpol saja tampa memilih nama calon legislatif. Umumya pemilih tradisional ini akan mengesampingkan berbagai pandangan negatif terhadap partai politik (parpol) atau calon anggota legislatif (caleg) parpol pilihannya. Itu artinya, pemilih lama tetap menjatuhkan pilihan pada parpol yang sudah dikenal dan mengakar. Dalam kaitan itulah dominasi parpol besar Partai Golkar dan PDIP pasti terjadi.
Analisa Hasil Pemilu 2004
Ibarat perlombaan Motor GP 500 cc, dimana para perely biasanya terbagi ke dalam beberapa kelompok, kelompok pertama dihuni 2 sampai dengan 3 pembalap yang selalu bergantian menjadi juara, selanjutnya ada kelompok ke-2 dengan beberapa pembalap, demikian seterusnya yang urutannya hampir selalu tidak berubah dari setiap arena kompetisi musiman tersebut.
Demikian juga dengan Pemilu 2004 di sumut yang terdiri dari 11 Dapil. Di Dapil 1 Kota medan, hasil Pemilu 2004 dapat dikelompokan ke 4 kelompok hasil, dimana kelompok pertama di isi oleh PKS, selanjutnya di kelompok kedua ada 4 partai yang memiliki perolehan suara tidak terlalu jauh berbeda yaitu PD, PDIP, PG dan PAN. Sedangkan di kelompok ke 3 ada 3 partai yaitu PPP, PBR, Partai PP. Dan dikelompok ke 4 terdiri dari semua partai yang memperoleh suara kurang dari 10.000 suara. Sedangkan untuk Dapil 2 sampai dengan Dapil 11, dikelompok 1 selalu di isi oleh Partai Golkar dan PDIP. Untuk DAPIL 2 Deli Serdang misalnya, di kelompok ke-1 ada Partai Golkar dan PDIP, sedangkan di kelompok ke-2 terdiri dari partai PD, PKS dan PAN. Selanjutnya di kelompok ke-3 terdiri dari partai PPP, PDS, PBR. Selanjutnya dikelompok ke-4 adalah partai-parti yang mendapatkan kurang dari 10.000 suara. Demikian selanjutnya untuk Dapil 3 sampai dengan Dapil 11, di kelompok satu selalu bergantian menjuarai antara Partai Golkar dan PDIP, sedangkan di kelompok 2 dan seterusnya penghuni kelompok cenderung tetap hanya urutannya yang silih berganti.
Dari fakta tersebut, terlihat bahwa hanya di Kota Medan, PKS mampu memimpin relly sendirian, sedangkan di daerah lain Partai Golkar dan PDIP yang memimpin relly secara bergantian.
Kemampuan PKS memimpin relly di musim 2004 di arena Dapil 1 kota Medan, adalah karena pendekatan diskusi dari rumah ke rumah yang digalang oleh kader muda dan mahasiswa PKS, disamping itu kemampuan menyentuh hati pemilih Kota Medan dilakukan dengan berbagai cara yang sangat simpatik. Walaupun diakui bahwa pendekatan diskusi dari rumah ke rumah mampu menyentuh perasaan pemilih namun tidak dapat memperbaiki nasip dan ekonomi masyarakat pemilih.
Partai Golkar dan PDIP mampu memimpin relly di berbagai Dapil di Pemilu 2004 semata-mata karena memanfaatkan kultural pemilih Sumatera Utara yang tradisional-irasional dan kental ikatan psikologis.
Analisa Tingkat Kompetisi Pemilu 2009
Kompetisi antar partai secara garis besar melibatkan 3 kubu besar. Yakni, Islam, Nasionalis dan yang berada di tengah-tengahnya (nasionalis inklusif). Jika pada pemilu 1999 terjadi fragmentasi suara di partai Islam, pada pemilu 2004 fragmentasi justru terjadi di partai-partai nasionalis. Dalam hal ini, suara PDIP tersebar ke partai-partai pecahannya (PNBK, PNIM,Pelopor), PDS dan yang terbesar adalah ke Partai Demokrat. Pada Pemilu 2009 fragmentasi partai nasionalis kembali terjadi, dimana PDIP kembali menelurkan satu partai pecahan: Partai Demokrasi Pembaruan. Jika menilik pentolan-pentolannya, PDP diperkirakan kuat di Jakarta (dimana PDIP berjaya pada pemilu 1999) dan juga di Jawa Tengah (dimana PDIP berjaya pada pemilu 2004). Tapi, kekuatan PDP juga keropos karena sebagian eksponennya sudah hengkang mendirikan Partai Pembaharuan Bangsa yang dipimpin Angelina Pattisiana dan Kemal Taruk. Suara PDIP juga bakal kembali terkoreksi. Kehadiran PDP dan PPB memang bisa menggerus suara PDIP. Namun, faktor utama kehilangan suara PDIP akan sama seperti kehilangan suara di 2004 yaitu bakal berasal dari kekecewaan arus bawah melihat kecenderungan manuver PDIP yang cenderung selalu manuver “hara kiri”. Berbagai contoh terlihat dalam manuver sejumlah pilkada yang berakhir dengan kekalahan yang meyakitkan. Contoh yang paling dekat adalah Pilgubsu 2008, dimana manuver otoriter ditunjukan ketua umum PDIP. Belum lagi ternyata kader PDIP mengetahui bahwa calon gubernur yang diusung ternyata adalah pelaku utama tersangka kasus penyerbuan kantor DPP PDI 27 Juli 1996 yang dikenal dengan kudeta dua tujuh Juli (Kudatuli). Meski begitu, masih terlalu dini untuk memproyeksikan ke mana suara PDIP 2009 akan berlabuh, di luar partai-partai nasionalis lainnya.
Selain PDIP, PKB juga diperkirakan bakal terkoreksi suaranya. Setelah Pemilu 2004, partai ini mengalami perpecahan dan sekaligus friksi internal yang keras. Setelah kubu Alwi Shihab membentuk PKNU, PKB hingga saat ini masih terlibat dalam konflik internal antara kubu Gus Dur dengan Muhaimin Iskandar. Situasi tak kondusif ini dipastikan bakal membuat PKB sangat mungkin kehilangan suara lagi. Selain ke PPP dan PKNU, suara PKB bukan tak mungkin bakal mengalir ke Partai Golkar, Hanura dan juga PKS.
PKS Partai yang diprediksikan banyak kalangan bakal mendulang suara lebih besar ketimbang pemilu 2004, juga menghadapi masalah eksodus kader-kadernya ke HTI. Jumlahnya memang tak banyak,tapi mereka kader-kader yang militan. Fenomena permukaannya bisa dilihat dari mulai melemahnya cengkraman KAMMI dalam menguasai BEM-BEM PTN/PTS. Di Pemilu 2004, kader-kader militan inilah yang bekerja secara militant mengetuk pintu pintu rumah pemilih, selain itu pengaruh “person mahasiswa” yang dianggap terdidik dan intelektual oleh keluarga dekat dan lingkungannya cukup berarti dalam menambah suara PKS di Pemilu 2004. Di Pemilu 2009 Cengkraman PKS di kelompok Mahasiswa sudah mulai melemah, dan artinya Pengaruh mahasiswa dan kader militant yang telah eksodus ke HTI turut akan menurunkan suara PKS di 2009. Kemenangan PILGUBSU 2008 yang diraih PKS diperkirakan tidak akan berarti terlalu banyak di Pemilu 2009, disamping fakta bahwa Gubernur yang terpilih ternyata masih kader golkar dan bahkan kini menjadi Ketua Dewan Pengarah Bappilu Partai Golkar dalam memenangkan Pemilu 2009, ternyata juga tim pemenangan Syampurno di isi oleh banyak kader partai golkar. Namun selain persoalan-persolan tersebut diatas, program turun ke desa-desa yang dijalankan kader-kader PKS, sedikit banyak telah terlihat pengaruhnya dalam merubah struktur perolehan suara, sehingga diperkirakan di 2009 PKS akan akan naik dan masuk di kelompok ke-2 dalam rally Pemilu 2009.
Partai besar lainnya, PPP, PD dan PAN, diperkirakan hanya bakal sedikit mengalami koreksi. Untuk kasus PPP, ada hal yang menarik. Partai ini bukan tak mungkin merambah suara baru berkat program-program ekonomi kerakyatan yang mengucur melalui Depsos dan Depkop UKM. "Gerakan diam-diam, tapi sangat menghanyutkan”, simak kunjungan Menteri Sosial ke Madina menjelang PILGUBSU 2008 yang sangat kental dan kentara dengan nuansa perebutan suara. Sedangkan Partai Demokrat diperkirakan tak bakal bisa masuk dalam 3 besar. "Masih bisa bertahan dengan perolehan suara 2004 lalu saja sudah dianggap prestasi luar biasa. Ini dikarenakan PD termasuk partai yang paling lemah dalam hal mesin politik maupun ideologi yang mengikat anggota dan simpatisannya. Yang menarik, meski perolehan suara partai-partai kelas tengah seperti PAN maupun PD masih pada kisaran yang sama dengan pemilu 2004 lalu, tapi diperkirakan perolehan kursi PD bakal anjlok. Sedangkan PAN, pendekatan marketing pencitraan yang distrudarai oleh FOX Indonesia begitu banyak membius pemilih muda dan pemilih pemula, sehingga diperkirakan PEMILU 2009 suara pemilih pemula akan dikuasai oleh PAN. Gebrakan BM PAN di Sumatera Utara (Desember 2007) merupakan salah satu indikator akan dikuasainya suara pemilih pemula dan pemilih muda oleh PAN.
Bagaimana dengan Partai Golkar akibat kehadiran Partai Hanura?
Komposisi pendiri dan pengurus Partai Hanura sebagian besar berasal dari kader golkar, namun sebagaimana fenomena Partai Demokrat di 2004 yang juga berasal dari kader golkar tidak berhasil mencuri suara Golkar secara signifikan. Ini dibuktikan dari rendahnya perolehan suara Partai Demokrat di daerah-daerah dimana Golkar mendulang suara besar. Peraihan suara Golkar relatif tak banyak berubah antara pemilu 1999 (22,3%) dengan 2004 (21,58%). Kehadiran Partai Hanura di 2009 akan sama dengan kehadiran Partai Demokrat di 2004, tidak akan terlalu banyak mencuri suara Partai Golkar. Justru akan terjadi perebutan suara antara Partai Hanura dengan Partai Demokrat tampa mempengaruhi perolehan suara Partai Golkar.
Salah satu persoalan besar Partai Golkar dalam pilkada adalah mandeknya mesin politik di tingkat akar rumput. Penyebabnya sederhana : mesin-mesin Golkar sudah sangat tergantung pada pasokan "gizi". Jika tak ada, sebagaimana dalam kasus di Pilgubsu 2008, akar rumputnya pun menyapa mereka yang memberikan "gizi". Namun Untuk kasus Partai Golkar, di Pemilu 2009 besar kemungkinan mesin-mesin itu bakal memanas lagi. Kali ini kan bukan soal orang, tapi partai, ceritanya bisa berbeda.
Belum lagi agresifitas BAPPILU Partai Golkar Sumut yang dinakhodai oleh Bp. Amru Daulay telah menunjukan giginya dengan berhasil merekrut begitu banyak professional, intelektual, akademisi dan mahasiswa untuk memperkuat barisan BAPPILU Partai Golkar Sumut. Berbagai gebrakan ekonomi kerakyatanpun telah terlihat nyata, dimana Partai Golkar membantu banyak ekonomi lemah dalam pemodalan, manajemen pengelolaan dan pemasaran. Agresifitas Partai Golkar dengan program satu juta kader juga pantas mendapat ancungan jempol, dimana dibeberapa DPD Partai Golkar Kab/Kota, setiap pemilik kartu keanggotan Golkar telah dilingdungi oleh Asuransi Kecelakaan.
Segala perubahan yang telah ditunjukan oleh Partai Golkar dalam mendekati rakyat dengan konsep perbaikan ekonomi kerakyatan, dan simpati yang begitu besar dari berbagai kalangan professional, intelektual, akademisi dan mahasiswa yang bergabung ke Partai Golkar melalui BAPPILU Partai Golkar telah begitu banyak merubah wajah Partai Golkar, sehingga prediksi banyak kalangan yang mengatakan bahwa Partai Golkar Sumut akan melampui target nasional 30 % akan tercapai.
Penulis adalah Praktisi Konsultan Manajemen & Event Organizer

Tidak ada komentar:
Posting Komentar