Jumat, 07 Oktober 2016

SUMUT rasa SERGAI

SUMUT rasa SERGAI
Oleh Sirajuddin, ST., MM.


                Optimis adalah kata yang tepat bagi Sumatera Utara menyambut kehadiran Gubernur barunya. Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) kini sudah definitif. tidak lagi dijabat oleh Pelaksana Tugas (Plt). Pada tanggal 25 Mei 2016 Presiden Joko Widodo Rabu telah melantik  Ir. H. Tengku Erry Nuradi. MSi menjadi Gubsu sampai dengan periode-2018. Optimisme ini pantas kita sematkan dalam benak kita, karena prestasinya sebagai Pelaksana Tugas Gubernur sejak Agustus 2015 telah memberikan peran yang sangat berarti bagi peningkatan Pendapatan Asil Daerah Sumatera Utara. Hal ini terlihat dari evaluasi Triwulan Keempat Tahun 2015 dan LKPJ Gubernur Akhir Tahun 2015, dimana berbagai peningkatan signifikan Pendapatan Asli Daerah tersebut diperoleh pada triwulan ke empat tersebut, disaat kekuasaan mengatur aparatur Pemerintah Provinsu Sumatera Utara (Pemprovsu) dalam genggaman beliau. Trend peningkatan tersebut kembali terasa ketika evaluasi triwulan pertama tahun 2016, dimana prestasi pencapaian PAD lebih baik dibandingkan Triwulan pertama tahun-tahun sebelumnya. Dulu Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) menjadi Kabupaten Terbaik dibawah kepemimpinan Ir. Tengku Erry Nuradi. Msi, maka kini ketika beliau mengemban amanah yang lebih besar, rasa manis di Sergai tersebut dapat terasa menggantikan rasa pahit yang selama 5 tahun ini terasa dalam pengelolaan Pemprovsu.

Evaluasi PAD 2015
Pendapatan Asli Daerah TA.2015 pada awalnya berjalan lambat, sampai dengan evaluasi semester pertama tahun 2015, sudah terbayang bahwa pencapaian hanya akan mencapai sekitar 60% sampai 70% seperti tahun sebelumnya. Namun kecelakaan politik dan hukum yang terjadi di Pemerintah Sumatera Utara membelokan arah perjalanan tersebut dan mengembalikan perjalanan perolehan PAD kembali ke jalan yang benar. Retribusi berbagai sektor meningkat tajam, retribusi jasa umum meningkat 120%, retribusi jasa usaha meningkat 173% dan yang paling fantastis adalah peningkatan retribusi izin tertentu yang meningkat 621%. Demikian juga dengan pajak daerah seperti pajak kendaraan bermotor, pajak bahan bakar, pajak rokok dan pajak air permukaan yang secara umum meningkat. Pajak Air Permukaan merupakan pajak daerah yang meningkat signifikan, memang disini ada titipan PT. Inalum yang masih menunggu keputusan hukum, namun bila 104 Milyar yang titipan PT. Inalum ini dikeluarkan, Pajak Air Permukaan masih meningkat 434%, bila titipan PT. Inalum dimasukan maka peningkatannya menjadi 586%. Demikian juga dengan Pajak Rokok yang meningkat 164%. Memang pajak kendaraan dan pajak bahan bakar meningkat tipis bahkan pajak BBN KB menurun drastis. Pajak BBN KB menurun drastis seiring dengan menurunnya pembelian kendaraan baru di Sumatera Utara. Sedangkan pajak kendaraan bermotor memang meningkat tipis hanya sekitar 4% dari tahun sebelumnya, peningkatan yang sangat tidak signifikan, namun peningkatan yang tidak signifikan tersebut membuka tabir seputar data kendaraan di Sumatera Utara yang simpang siur dimana terdapat data berbeda di lembaga resmi  pemerintah yang merupakan kantor satu atap (SAMSAT) dan begitu besarnya jumlah kendaraan bermotor di Sumatera Utara yang dilaporkan tidak membayar pajak. Terbukanya kesimpangsiuran data tersebut dan besarnya jumlah kendaraan yang tidak membayar pajak yang saat ini sedang ditelusuri oleh Panitia Khusus DPRD Sumatera Utara, memberi harapan baru akan segera terjadinya perbaikan dan peningkatan PAD Sumatera Utara pada masa yang akan datang.
 Sektor Pendapatan adalah sumber korupsi terbesar di negeri ini. Peningkatan berbagai pajak daerah dan berbagai sektor retribusi jelas menimbulkan kekecewaan yang teramat sangat dikalangan aparatur pengelola, karena selama ini pendapatan di sektor ini bisa dibagi-bagi, saat ini harus dilapor dan menjadi pendapatan daerah. Demikian juga dengan terbuka nya fakta tentang pajak kendaraan Sumatera Utara yang selama ini tertutupi, jelas merupakan fakta yang tidak enak dibuka bagi aparatur pengelola. Di sini terlihat jelas merupakan peran pemimpin tertinggi, walau dengan kewenangannya yang terbatas sebatas pelaksana tugas (PLT) namun dapat memaksa aparatur pengelola untuk menyetorkan retribusi yang memang menjadi hak Keuangan Daerah. Kesungguhan meningkatkan pendapatan daerah dan menutupi berbagai celah kebocoran yang selama ini ada merupakan suatu hal yang teramat pantas untuk diapresiasi. Dan kita sebagai masyarakat Sumatera Utara berharap trend tersebut dapat dipertahankan dan ditingkatkan pada masa-masa yang akan datang.

Evaluasi Triwuan Pertama 2016
. Evaluasi realisasi anggaran pada Triwulan Pertama Tahun 2016, memberikan rasa optimisme yang semakin kuat dan semakin menunjukan bahwa sektor Pendapatan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah kembali ke jalan yang benar. Ditengah turunnya pembelian kendaraan baru yang berakibat merosotnya Pajak BBN KB dan akan berimbas besar kepada Pajak Daerah Sumatera Utara ditambah menurunnya kinerja Bank Sumut pada triwulan pertama 2016 yang mengalami permasalahan yang sama seperti yang dialami oleh sektor perbankan sebagaimana yang disebutkan dalam Laporan Kajian ekonomi dan keuangan regional Bank Indonesia untuk periode Triwulan Pertama 2016 menyebutkan bahwa perbankan Sumatera Utara mengalami perlambatan yang paling dalam selama 5 tahun terakhir. Penurunan kinerja Bank Sumut ini, akan berimbas langsung kepada menurunya Pendapatan Asli Daerah Provinisi Sumatera Utara. Namun ditengah kondisi perlambatan pertumbuhan kedua sektor tersebut, secara total PAD Sumatera Utara masih mengalami pertumbuhan positif,  pertumbuhan yang lebih baik dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya. Pendapatan Daerah Pemprovsu masih mampu mencapai 23,3% dari pagu yang ditetapkan dan kinerja ini lebih baik dibandingkan tahun 2015 dimana pada periode yang sama mencapai 22,4%. Selain itu, dari jumlah angkanya, selisih pertumbuhan Pendapatan tersebut juga cukup besar. Pada periode triwulan pertama 2016 Pendapatan Daerah   Sumatera Utara mencapai 2,321 triliun, sedangkan triwulan pertama 2015 pendapatan mencapai 1,895 triliun, deltanya sekitar 23%. Pencapaian triwulan pertama yang telah mencapai 23,3% tersebut semakin menguatkan harapan kita bahwa pada akhir triwulan ke empat Tahun 2016 nanti pencapaian akan kembali melampui pagu yang ditetapkan.

Tantangan 2 Tahun Sisa Masa Jabatan
Presiden Joko Widodo ketika melantik meminta Gubsu Erry Nuradi mereformasi birokrasi dan anggaran publik secara fundamental, memperbaiki sistem tata kelola pemerintahan dan meningkatkan pelayanan publik. Selain itu Periode 2 tahun ke depan ini, Gubsu HT Erry Nuradi harus mampu memperbaiki citra yang terpuruk karena persoalan hukum yang begitu besar mendera Pemerintah Provsu. Permintaan Presiden ini cukup beralasan jika melihat kondisi Sumut yang sangat rentan terjerat kasus - kasus korupsi. Gubsu HT. Erry Nuradi telah menegaskan akan fokus pada pembenahan berbagai persoalan yang mencakup lima poin. Yaitu menciptakan keuangan Pemprovsu yang tidak lagi defisit, menyelesaikan hutang dana bagi hasil Pemprovsu kepada kabupaten / kota. Poin lainnya menerapkan rencana aksi pemberantasan korupsi. Kemudian mengubah kebiasaan buruk para penyelenggara pemerintahan dan mewujudkan Sumut sebagai smart province dengan mempermudah jangkauan pelayanan akses informasi kepada masyarakat. Kelima poin yang ditargetkan dalam pembenahan itu diharapkan tidak untuk menyenangkan hati rakyat Sumut. Rakyat butuh realisasi bukan harapan semu atau janji - janji seperti kampanye. Bila lima point itu saja bisa diwujudkan dalam sisa masa jabatan 2 tahun yang akan datang, maka manisnya rasa kabupaten Sergai yang mendapat berbagai penghargaan pada masa jabatan Bupati HT. Erry Nuradi akan turut dirasakan oleh masyarakat Sumatera Utara dalam sisa masa jabatan Gubernur HT. Erry Nuradi 2 tahun mendatang.

Penulis adalah Praktisi Ekonomi dan
Peserta Program Doktor PW  USU
 Email: gayo72@gmail.com

KINERJA PENDAPATAN SUMUT KINI DI JALAN YANG BENAR

KINERJA PENDAPATAN SUMUT
KINI DI JALAN YANG BENAR
Oleh  : Sirajuddin Gayo, ST., MM.

                Kinerja Pendapatan Sumatera Utara sejak kepemimpinan di ambil alih PLT. Gubernur TE (HT. Erry Nuradi) pada akhir tahun 2015, terlihat mulai berjalan di jalan yang benar. Indikasi kembalinya PAD ke jalan yang benar terlihat dari terlampuinya target pada Tahun 2015 setelah sejak tahun 2012 tidak pernah mencapai target yang ditetapkan. Peningkatan yang paling signifikan terlihat dari peningkatan Pajak Air Permukaan dan peningkatan dari sektor retribusi yang meningkat tajam. Peningkatan berbagai sektor pendapatan mulai terasa meningkat signifikan pada triwulan ke empat Tahun 2015, yang kebetulan kepemimpinan sudah diambil alih oleh Plt. Gubernur.
Harus diakui bahwa kinerja Pendapatan Sumatera Utara mulai memburuk sejak kepemimpinan diambil alih oleh PLT. Gubernur GP. Kinerja memburuk ini nyaris tidak terlihat karena tertolong adanya kebijakan pajak kendaraan progresif yang mulai dinikmati pada tahun 2011 dan limpahan dana BOS yang mulai masuk ke APBD tahun 2012. Periode 2012-2014, target PAD hanya mencapai 92,88%, 77,39% dan 84,85%. Pada semester pertama tahun 2015, trend kegagalan pencapaian PAD terlihat masih akan berlajut, namun kecelakaan politik dan hukum yang terjadi membelokan arah perjalanan pencapaian PAD. Tiga bulan terakhir 2015 progres perolehan PAD mulai berjalan di jalan yang benar, perolehan Pajak APU meningkat tajam sebesar 586% dari tahun sebelumnya. Pajak Kendaraan Bermotor mulai tumbuh positif sebesar 100,42%. Demikian juga dengan kontribusi Retribusi terhadap PAD meningkat 139,30%.  Perjalanan perolehan PAD 3 bulan terakhir 2015 menunjukan arah perjalanan telah berada di jalan yang benar dan harus diakui bahwa membaiknya perolehan PAD tersebut adalah peran kepemimpinan tertinggi sehingga pada akhir tahun anggaran PAD mencapai 104,44%

Periode 2011-2014
Periode kepemimpinan 2011-2104 adalah periode gelap dalam kepemimpinan kinerja pendapatan dan belanja di Sumatera Utara. Tahun 2011 kinerja buruk ini nyaris tidak terlihat karena tertolong dengan limpahan pajak kendaraan progresif yang mulai berlaku, dan 2012 kinerja buruk pendapatan kembali nyaris tidak terlihat karena tertolong oleh masuknya dana BOS dalam APBD Sumatera Utara, namun bila ditelisik lebih jauh pendapatan-pendapatan dari sektor lain turun secara drastis. Salah satunya adalah pendapatan yang berasal dari kontribusi BUMD Sumatera Utara yang sejak tahun 2011 merupakan pendapatan tertinggi mencapai 289 milyar. Setelah itu berturut-turut sampai dengan tahun 2014 mengalami pertumbuhan negatif 91,20%, 86,88% dan terus merosot hanya mencapai 68,13%. Padahal di era Gubernur SA pertumbuhan kontribusi BUMD selalu positif sejak tahun 2009 tumbuh 123,61%, tahun 2010 tumbuh sebesar 171,54% dan tahun 2011 yang merupakan era keemasan kontribusi BUMD terhadap PAD yang mencapai 174,07%. Setelah periode tersebut terus tumbuh negatif yang pada akhir tahun anggaran 2014  kontribusi BUMD hanya 156 milyar atau hilang 133 milyar dari Tahun 2011. Pada tahun 2015, sampai dengan evaluasi anggaran triwulan ke tiga 2015, trend negatif ini terlihat masih akan terus berlanjut. Namun pada tiga bulan terakhir 2015 pendapatan dari Bank Sumut digenjot habis sehingga kontribusi PAD dari BUMD mencapai 250 milyar dengan kontribusi dividen dari Bank Sumut mencapai 93,49% dan hasilnya kontribusi BUMD terhadap PAD kembali tumbuh positif sebesar 160,35%.
Kinerja buruk lainnya dalam perolehan pendapatan adalah tingginya angka kebocoran pada perolehan retribusi, dimana pada tahun 2012 retribusi masih tumbuh positif sebesar 107,2%, namun pada tahun tahun 2013 dan 2014 mengalami pertumbuhan negatif yaitu 99,67% dan 77,76%, yang artinya tingkat kebocoran perolehan retribusi terus membesar. Pada tahun 2015 sampai dengan semester pertama, trend penurunan kontribusi retribusi masih belum membaik, namun 3 bulan terakhir 2015, berbagai upaya yang dilakukan untuk menekan angka kebocoran perolehan retrisbusi, sehingga pada akhir tahun anggaran 2015, retribusi tumbuh positif dan mencapai titik tertingginya yaitu 139,30%.
Selain dari sisi pendapatan, pada sisi belanja periode 2011-2014 merupakan sisi belanja dengan kinerja terburuk juga. Rendahnya penyerapan anggaran terlihat jelas dari tingginya angka SILPA. SILPA pada tahun 2011 mencapai 396 milyar lebih dan tahun 2012 kembali meningkat tajam menjadi 705 milyar lebih. Memang pada tahun 2013 SILPA sangat rendah hanya mencapai 276 milyar dan merupakan titik terendah SILPA, namun bila dibedah lebih jauh, prestasi rendahnya SILPA pada tahun 2013 bukan karena membaiknya penyerapan anggaran yang sesungguhnya, namun rendahnya SILPA pada tahun 2013 sesungguhnya karena tingginya belanja tidak langsung yang berfokus pada besarnya belanja Bantuan Sosial, Belanja Hibah dan Dana Bantuan Daerah Bawahan yang besarnya melebihi belanja langsung untuk pembangunan.

Periode Tahun Anggaran 2015
Sebagaimana telah diungkapkan diatas, pada Tahun Anggaran 2015 sampai dengan evaluasi anggaran semester pertama, trend pertumbuhan negatif masih terlihat akan berlanjut. Rendahnya perolehan pajak daerah dari seluruh sektor, termasuk rendahnya perolehan pajak kendaraan bermotor, rendahnya kontribusi BUMD dan Retribusi Daerah yang sampai dengan semester pertama Tahun 2015 bahkan belum terlihat, merupakan masalah-masalah besar yang terungkap dari evaluasi anggaran semester pertama Tahun 2015. Namun kehendak dan takdir Sumatera Utara berkata lain, kecelakaan politik dan hukum yang terjadi begitu besar di Sumatera Utara pada Semester kedua Tahun 2015 memberikan dampak positif untuk perbaikan kinerja pendapatan Sumatera Utara. Tiga bulan terakhir 2015, sektor-sektor Pendapatan Asli Daerah Sumatera Utara tumbuh dengan cepat dan signifikan, demikian juga kebocoran-kebocoran pada sisi retribusi ditekan begitu kuatnya sehingga retribusi bisa tumbuh dengan baik dan berkontribusi terhadap PAD. Peningkatan kontribusi retribusi terhadap PAD biasanya kontraproduktif dengan pertumbuhan dunia usaha, namun yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada tiga bulan terakhir tahun 2015, peningkatan retribusi tanpa menyakiti dunia usaha karena dilakukan dengan menekan berbaga angka kebocoran retribusi. Sehingga perjalanan pendapatan Sumatera Utara pada tahun 2015 dapat dikatakan telah kembali ke jalan yang benar (on the track).
Panitia Khusus pembahasan LKPJ Akhir Tahun Anggaran 2015 yang dilakukan DPRD Sumatera Utara baru-baru ini memberikan penilaian yang berbeda. Namun bila ditelisik lebih jauh penilaian Panitia Khusus berfokus kepada rendahnya kinerja komunikasi, koordinasi dan supervisi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang dinilai merupakan masalah besar dalam pengelolaan Sumatera Utara hari ini. Kinerja dari sisi pencapaian pendapatan tidak diungkap terlalu jauh. Selain itu pencapaian indikator kinerja hampir dari seluruh program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD tidak ada yang tercapai bahkan dapat dinilai jauh panggang dari api. Fakta yang sama sebenarnya juga terlihat dari sisi kinerja pendapatan. Kinerja pendapatan masih jauh dari pencapaian yang ditetapkan dalam RPJMD 2013-2018, dan ini lah yang menjadi titik berat perhatian Panitia Khusus LKPJ DPRD Sumatera Utara yang memberikan penilaian gagal terhadap kepemimpinan Gubernur Sumatera Utara Tahun 2015. Namun bila diteliti lebih jauh, upaya-upaya Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada tiga bulan terakhir Tahun 2015 telah berhasil mengembalikan perjalanan kinerja pendapatan pada jalur yang benar.
Penulis adalah Praktisi Ekonomi dan
Peserta Program Doktor PW  USU

 Email: gayo72@gmail.com

BUMD PemprovSU, Ada tapi TIADA

BUMD PemprovSU, Ada tapi TIADA
Oleh : Sirajuddin Gayo, ST., MM.
BUMD atau Perusahaan Daerah tujuannya adalah untuk melaksanakan pembangunan daerah melalui pelayanan jasa kepada masyarakat, penyelenggaraan kemanfaatan umum dan peningkatan penghasilan pemerintah daerah. Namun pada kenyataan Seringkali BUMD justru bukan memberikan kontribusi kepada PAD melainkan membebani keuangan daerah. Dalam beberapa kasus kondisinya seperti kerakap diatas batu, hidup segan mati tidak mau. Keberadaannya terlihat ada namun tak pernah terasa ada. Kondisi tersebut terjadi juga pada BUMD milik Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, perusahaannya masih ada namun sudah dianggap tiada bahkan dalam laporan Akhir Tahun Gubsu yang disampaikan dalam LKPJ akhir Tahun 2015, nama BUMD tersebut bahkan ada yang sudah hilang dalam daftar, selain itu ada juga namanya masih ada terdaftar namun kontribusi terhadap PAD nya sudah sekian tahun selalu NOL. Perusahaannya sesungguhnya masih Ada namun sudah dianggap TIADA.
Kinerja BUMD Sumatera Utara secara keseluruhan mencapai kinerja terbaiknya pada tahun 2011, kontribusinya terhadap PAD mencapai 7%, Namun setelah tahun 2011 tersebut pendapatan BUMD terus menerus menurun, pada  tahun 2011 kontribusi BUMD terhadap PAD Sumut sebesar Rp. 289 milyar lebih, Tahun 2012 menurun menjadi Rp. 263 milyar lebih, tahun  2013 sebesar Rp. 229 milyar lebih, dan tahun 2014 semakin terus menurun Rp. 156 milyar lebih. Saya berani mengatakan kalau seandainya tidak ada kecelakan politik dan hukum yang terjadi pada pertengahan tahun 2015, maka kontribusi BUMD terhadap PAD tersebut masih akan terus menurun, namun kita patut bersyukur, kecelakaan politik dan hukum yang mendera para petinggi Sumatera Utara membelokan arah tersebut, dan pada tahun 2015 dividen BUMD terhadap PAD kembali menaik menjadi Rp. 250 Milyar lebih. Walaupun bila dibedah lebih jauh, pendapatan tersebut 93% nya berasal dari setoran deviden PT. Bank Sumut. Artinya 7 BUMD lainnya hanya berkontribusi 7% dari pendapatan yang 250 Milyar tersebut.



Disparitas BUMD Sumuti

Adanya disparitas yang sangat tajam antara beberapa BUMD. Sebut saja misalnya kinerja Bank Sumut dibandingkan dengan 7 BUMD lainnya. Bank Sumut telah mampu memberikan kontribusi PAD yang sangat besar bagi Pemerintah Propinsi, Kabupaten dan Kota. Berbeda dengan BUMD lainnya yang bahkan ada yang tidak mampu memberikan kontribusi apapun terhadap PAD Sumut.
            PDAM. Tirtanadi dengan beban Public Service Obligation (PSO) memang tidak bisa kita bandingkan dengan BUMD lainnya. Namun paling tidak antara PD. Perkebunan dengan Bank Sumut misalnya, dapat kita lihat sebagai pembenaran betapa jurang disparitas sangat lebar antara BUMD yang kita miliki. Data LKPJ Akhir Tahun 2015, dari 250 Milyar kontribusi terhadap PAD, PT. Bank Sumut 93,42%, PD. Perkebunan 5,99%, PT. KIM 0,37%, PT.DS 0,14%, Askrida 0,08% dan 2 BUMD lainnya (PT.PPSU dan PT. AIJ) berkontribusi NOL Persen.

Membedah Kinerja BUMD SUMUT
Kinerja Perusahaan Daerah Sumatera Utara dapat diukur melalui tiga ukuran kinerja yaitu : 1) kontribusinya  terhadap PAD; 2) tingkat probitabilitasnya dan  3) tingkat kapitalisasi terhadap modalnya..
Periode 2009 s/d 2011, Kontribusi Bank Sumut terhadap PAD selalu diatas 5%, periode 2012 s/d 2014 kontribusi Bank Sumut 4,8%, terus menurun 4,3% dan menurun lagi menjadi 2,83%, baru pada 2015 kembali naik menjadi 4,8%.
Untuk PD. Perkebunan kontribusi 2011 masih 0,57% namun seiring berjalan waktu setiap tahun kontribusinya terus menerus menurun dan di tahun 2015 kontribusinya tinggal 0,31% saja. Dan kondisi ini dialami oleh seluruh BUMD Sumatera Utara lainnya yang memberikan kontribusi yang terus menerus menurun dari 2011 s/d 2015. Prestasi yang membaik hanya ditunjukan oleh PT. Dhirga Surya (DS) dimana kontribusi di tahun 2014 mencapai 0,0037% di tahun 2015 tumbuh menjadi 0,0075%.
            Berdasarkan             Ukuran kinerja tingkat profitabitabilitas atau kemampuan perusahaan daerah menghasilkan profit dari unit-unit operasional yang dikelolanya. Berdasarkan data yang ada,  PT. KIM memiliki tingkat profitabilitas sebesar 197%, kemudian diikuti oleh Bank Sumut sebesar 128%, PT. Askrida 55%, PT. Perkebunan Sumut 13%. Sedangkan BUMD lainnya memiliki tingkat profitabilitas negatif, yang artinya pendapatan dari usaha operasionalnya tidak dapat menutupi beban operasionalnya seperti yang dialami oleh PT.AIJ.
            Ukuran kinerja lainnya dapat diukur dari kemampuan perusahaan daerah meningkatkan nilai perusahaan dari modal yang diberikan. Pendekatan ini dilakukan  dengan cara membandingkan penyertaan modal yang telah diberikan Pemerintah Provinsi dengan dengan nilai aktiva Perusahaan. Idealnya yang dibandingkan adalah modal yang diberikan dengan nilai usaha dari perusahaan, namun karena sebagian BUMD Sumut secara nilai usaha dapat dikatakan tidak bernilai, maka pendekatan yang mudah adalah membandingkan antara modal yang diberikan dengan nilai aktivanya saja. Dengan pendekatan tersebut berdasarkan data yang ada, maka diperoleh data dimana Bank Sumut mampu meningkatkan nilai aktiva sebesar 21 kali dari nilai modal yang diberikan, selanjutnya PT. KIM dan  PT. Askrida meningkatkan nilai aktiva sekitar 3 kali dari nilai modal yang diberikan, PDAM Tirtanadi dan PT. Perkebunan Sumut sekitar 2 kali dari nilai modal, dan yang lainnya yaitu PD. AIJ, PT. DS, dan PT. PPSU tidak dapat meningkatkan nilai modal yang diberikan kepadanya.

Solusi Memperbaiki Kinerja BUMD Sumut
BUMD yang kinerjanya tumbuh positif, terlihat adanya berbagai kegiatan diversifikasi usaha yang terus menerus dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan sumber-sumber pendapatan yang dimiliki. Upaya positif ini terlihat di Bank Sumut, PT. KIM dan PT. Dhirga Surya
            Hal yang sama tidak terlihat di BUMD yang lain, seperti PDAM Tirtanadi yang sejak awal didirikan hanya menjual air bersih dan sampai sekarang hanya menjual air bersih saja. Padahal dengan sebaran asset yang dimiliki PDAM Tirtanadi seharusnya dapat menambah berbagai sumber-sumber pendapatan lainnya dan meningkatkan nilai usaha perusahaannya. Demikian juga dengan PT. AIJ yang tidak dapat mengikuti persaingan percetakan yang ada apalagi dengan era digital printing sekarang PT.AIJ semakin jauh dari “maunya” pasar. Padahal dengan potensi asset yang begitu banyak seharusnya PD. AIJ dapat dengan mudah menambah berbagai sumber-sumber pendapatan dan tidak hanya berpangku kepada mesin percetakan yang sudah ketinggalan jaman. Sebenarnya sangat mudah bagi PT. AIJ untuk hidup kembali dari mati surinya, langkah awal yang mudah tentu memanfaatkan captive market yang dimiliki dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk membesarkan perusahaan, maka setidaknya gerbang PT. AIJ yang selama ini tertutup dan berkarat dapat dibuka kembali.

Penulis praktisi bisnis dan Peserta Program Doktor PW USU

Manajemen "on off" APBD Sumut

Manajemen “on off” APBD Sumut
Oleh Sirajuddin Gayo, ST., MM.


                                Pekan lalu, kita warga Sumatera Utara dikejutkan dengan penolakan DPRD Sumatera Utara terhadap KUA-PPAS Perubahan APBD TA. 2016 yang diajukan Gubernur Sumut. Kalangan dewan menilai KUA PPAS yang diajukan teramat banyak melanggar kesepakatan yang telah dituangkan sebelumnya, angka-angka yang tersaji dalam PPAS menurut kalangan dewan terlalu naif, sedangkan Gubernur Sumatera Utara menanggapi penolakan Dewan tersebut sebagai suatu hal yang berlebihan karena menurut Gubernur segala sesuatunya masih dalam tahap pembahasan.  Memang teramat naif menolak sebelum dibahas namun juga teramat riskan membahas yang terlalu naif.

Manajemen “on off” Perencanaan Pendapatan
                        Menganalisis PPAS (Prioritas dan Plafon Anggaran Sementara) P-APBD TA.2016 yang diajukan Gubernur ke DPRD Sumut, terlihat memang ada indikasi manajemen buka tutup dalam perencanaan anggaran pendapatan. Karena ada pendapatan yang bertambah di satu sumber maka ada sumber pendapatan lain yang diturunkan. On pada suatu pendapatan dan di off kan pada pendapatan lain. Kita sebagai warga Sumatera Utara berharap bahwa analisis ini adalah salah besar, kita harus tetap pada sikap berpandangan baik, bahwa pendapatan yang bertambah karena memang disengaja yang direncanakan dengan baik. Dan pendapatan yang dikurangkan bukanlah karena kesengajaan tapi karena kondisi lah yang memang mengharuskan penurunan  pendapatan tersebut.
            Indikasi manajemen buka tutup pada PPAS P-APBD TA. 2016 itu, salah satunya  terlihat pada pertambahan dana hibah yang meningkat signifikan bertambah 549,83% (bertambah 187 milyar lebih). Namun pertambahan ini menjadi tidak berarti karena Pajak Daerah BBN-KB di turun kan 71 milyar lebih dan Pajak Bahan Bakar diturunkan 90 milyar lebih.  Ketika On pada pendapatan hibah maka di off kan pada pajak daerah. Sehingga menjadi suatu hal yang dapat dianggap wajar ketika Badan Anggaran DPRD Sumatera Utara menyepakati mengembalikan KUA-PPAS yang diajukan Gubernur Sumatera Utara, terlalu naif untuk dibahas, begitu legislator Sumut menyatakan penolakannya.

Perubahan APBD
            Perubahan APBD TA.2016 ini, mau tidak mau memang harus mengalami penyesuaian. Selain perubahan-perubahan asumsi normatif yang selama ini selalu menjadi latar belakang perubahan APBD, alasan yang paling mendesak pada perubahan tahun anggaran 2016 ini adalah karena adanya penyesuaian pada pendapatan APBN yang berimbas secara langsung kepada pendapatan APBD termasuk APBD Sumatera Utara. Secara normatif, perubahan APBD dilakukan Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 58 tahun 2005 tanggal 9 Desember 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah pada pasal 81 disebutkan bahwa penyesuaian APBD dengan perkembangan dan atau perubahan keadaan, dibahas bersama DPRD dengan Pemerintah Daerah dalam rangka penyusunan prakiraan perubahan atas APBD tahun anggaran bersangkutan apabila terjadi Perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi Kebijakan Umum APBD, Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan dan antar jenis belanja, Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih pada tahun sebelumnya harus digunakan pada tahun anggaran berjalan, Keadaan darurat dan keadaan luar biasa. Demikian juga di dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 21 tahun 2011 jo. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 13 tahun 2006 pasal 154 ayat 1 disebutkan bahwa Perubahan APBD dapat dilakukan apabila terjadi : (a) Perkembangan yang tidak sesuai dengan asumsi KUA ; (b) Keadaan yang menyebabkan harus dilakukan pergeseran anggaran antar unit organisasi, antar kegiatan, dan antar jenis belanja ; (c) Keadaan yang menyebabkan saldo anggaran lebih tahun sebelumnya harus digunakan dalam tahun berjalan ; (d) Keadaan darurat; dan (e) Keadaan luar biasa.
            Dengan kondisi keuangan daerah saat ini dan banyaknya perbedaan asumsi pada perencanaan APBD, maka pilihan melakukan perubahan pada APBD TA. 2016 adalah pilihan  yang harus dilakukan. Sehingga kegemasan Gubernur Sumatera  atas penolakan DPRD Sumut menjadi kegemasan yang wajar. KUA-PPAS untuk P.APBD tersebut masih merupakan usulan untuk dibahas. Penyesuaian, perubahan dan  bahkan perbaikan tentunya memang masih dapat dilakukan sepenuhnya ketika pembahasan Badan Anggaran dengan TAPD, memang menjadi naif ketika menolak sebelum dibahas.

Pertambahan Semu P-APBD 2016
            Perubahan APBD 2016 yang diajukan Gubernur Sumatera Utara terlihat meningkat 267 milyar lebih (2,68%). Sekilas peningkatan ini pantas diberi apersiasi,  karena peningkatannya disumbang dari kontribusi BUMD sebesar 76,6 milyar dan peningkatan dari pendapatan lain-lain yang bertambah sebesar 18,5 milyar. Peningkatan ini terkesan menunjukan kemandirian APBD Sumatera Utara. Namun pertambahan pendapatan APBD ini sesungguhnya adalah semu karena tambahan 185 milyar pada dana hibah adalah tambahan dana non kas (tidak berupa uang), tapi merupakan bagian dari penghapusan hutang PDAM Tirtanadi yang dilakukan Departemen Keuangan RI. Kondisi ini mengharuskan Pemerintah Sumatera Utara seolah-olah menambah dana investasi untuk BUMD PDAM Tirtanadi, dan hal ini juga menjadi salah satu alasan utama penolakan DPRD Sumatera Utara. Karena sejak awal telah disepakai Badan Anggaran dengan TAPD Pemprov Sumut, bahhwa tidak ada penambahan penyertaan modal pada BUMD pada Tahun Anggaran 2016.       Penambahan semu sebesar 185 milyar lebih pada APBD yang sebenarnya non kas, seolah telah “meng on kan” peningkatan anggaran, dan sebagai sebuah filosofi manajemen “on off”, maka on tersebut harus “di off kan” pada sumber pendapatan lainnya.
            Tulisan ini seolah memang lebih terlihat memihak kepada sikap Badan Anggaran DPRD Sumut yang menolak membahas Perubahan APBD 2016. Untuk itu penjelasan yang kongkrit dari TAPD Pemprovsu atas Penurunan Pajak Daerah harus dapat menjawab permasalahan ini dengan baik. Apalagi sumber penurunannya adalah Pajak Bahan Bakar yang seharusnya trendnya tidak mungkin menurun. Penjelasan yang kongkrit dari TAPD Pemprovsu mudah-mudahan dapat membuka pemahaman kenegarawanan anggota dewan, bahwa Perubahan APBD TA. 2016 ini sangat penting dan sangat perlu untuk dilakukan. Karena tanpa penyesuaian-penyesuaian pada APBD 2016 maka belanja pembangunan akan terkendala untuk dilakukan, mau pembangunan sumut terkendala ?
Penulis adalah Praktisi Ekonomi dan
Peserta Program Doktor PW  USU

 Email: gayo72@gmail.com