BUMD PemprovSU, Ada tapi
TIADA
Oleh : Sirajuddin Gayo,
ST., MM.
BUMD atau Perusahaan Daerah tujuannya
adalah untuk melaksanakan pembangunan daerah melalui pelayanan jasa kepada
masyarakat, penyelenggaraan kemanfaatan umum dan peningkatan penghasilan
pemerintah daerah. Namun pada kenyataan Seringkali BUMD justru bukan memberikan
kontribusi kepada PAD melainkan membebani keuangan daerah. Dalam beberapa kasus
kondisinya seperti kerakap diatas batu, hidup segan mati tidak mau.
Keberadaannya terlihat ada namun tak pernah terasa ada. Kondisi tersebut
terjadi juga pada BUMD milik Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, perusahaannya
masih ada namun sudah dianggap tiada bahkan dalam laporan Akhir Tahun Gubsu yang
disampaikan dalam LKPJ akhir Tahun 2015, nama BUMD tersebut bahkan ada yang
sudah hilang dalam daftar, selain itu ada juga namanya masih ada terdaftar
namun kontribusi terhadap PAD nya sudah sekian tahun selalu NOL. Perusahaannya sesungguhnya
masih Ada namun sudah dianggap TIADA.
Kinerja BUMD Sumatera Utara secara
keseluruhan mencapai kinerja terbaiknya pada tahun 2011, kontribusinya terhadap
PAD mencapai 7%, Namun setelah tahun 2011 tersebut pendapatan BUMD terus
menerus menurun, pada tahun 2011
kontribusi BUMD terhadap PAD Sumut sebesar Rp. 289 milyar lebih, Tahun 2012
menurun menjadi Rp. 263 milyar lebih, tahun
2013 sebesar Rp. 229 milyar lebih, dan tahun 2014 semakin terus menurun
Rp. 156 milyar lebih. Saya berani mengatakan kalau seandainya tidak ada
kecelakan politik dan hukum yang terjadi pada pertengahan tahun 2015, maka
kontribusi BUMD terhadap PAD tersebut masih akan terus menurun, namun kita
patut bersyukur, kecelakaan politik dan hukum yang mendera para petinggi
Sumatera Utara membelokan arah tersebut, dan pada tahun 2015 dividen BUMD
terhadap PAD kembali menaik menjadi Rp. 250 Milyar lebih. Walaupun bila dibedah
lebih jauh, pendapatan tersebut 93% nya berasal dari setoran deviden PT. Bank
Sumut. Artinya 7 BUMD lainnya hanya berkontribusi 7% dari pendapatan yang 250
Milyar tersebut.
Disparitas BUMD Sumuti
Adanya disparitas yang
sangat tajam antara beberapa BUMD. Sebut saja misalnya kinerja Bank Sumut
dibandingkan dengan 7 BUMD lainnya. Bank Sumut telah mampu memberikan
kontribusi PAD yang sangat besar bagi Pemerintah Propinsi, Kabupaten dan Kota.
Berbeda dengan BUMD lainnya yang bahkan ada yang tidak mampu memberikan
kontribusi apapun terhadap PAD Sumut.
PDAM.
Tirtanadi dengan beban Public Service
Obligation (PSO) memang tidak bisa kita bandingkan dengan BUMD lainnya.
Namun paling tidak antara PD. Perkebunan dengan Bank Sumut misalnya, dapat kita
lihat sebagai pembenaran betapa jurang disparitas sangat lebar antara BUMD yang
kita miliki. Data LKPJ Akhir Tahun 2015, dari 250 Milyar kontribusi terhadap
PAD, PT. Bank Sumut 93,42%, PD. Perkebunan 5,99%, PT. KIM 0,37%, PT.DS 0,14%,
Askrida 0,08% dan 2 BUMD lainnya (PT.PPSU dan PT. AIJ) berkontribusi NOL
Persen.
Membedah
Kinerja BUMD SUMUT
Kinerja
Perusahaan Daerah Sumatera Utara dapat diukur melalui tiga ukuran kinerja yaitu
: 1) kontribusinya terhadap PAD; 2)
tingkat probitabilitasnya dan 3) tingkat
kapitalisasi terhadap modalnya..
Periode
2009 s/d 2011, Kontribusi Bank Sumut terhadap PAD selalu diatas 5%, periode
2012 s/d 2014 kontribusi Bank Sumut 4,8%, terus menurun 4,3% dan menurun lagi
menjadi 2,83%, baru pada 2015 kembali naik menjadi 4,8%.
Untuk
PD. Perkebunan kontribusi 2011 masih 0,57% namun seiring berjalan waktu setiap
tahun kontribusinya terus menerus menurun dan di tahun 2015 kontribusinya tinggal
0,31% saja. Dan kondisi ini dialami oleh seluruh BUMD Sumatera Utara lainnya
yang memberikan kontribusi yang terus menerus menurun dari 2011 s/d 2015.
Prestasi yang membaik hanya ditunjukan oleh PT. Dhirga Surya (DS) dimana
kontribusi di tahun 2014 mencapai 0,0037% di tahun 2015 tumbuh menjadi 0,0075%.
Berdasarkan
Ukuran kinerja tingkat profitabitabilitas atau kemampuan
perusahaan daerah menghasilkan profit dari unit-unit operasional yang
dikelolanya. Berdasarkan data yang ada, PT. KIM memiliki tingkat profitabilitas
sebesar 197%, kemudian diikuti oleh Bank Sumut sebesar 128%, PT. Askrida 55%,
PT. Perkebunan Sumut 13%. Sedangkan BUMD lainnya memiliki tingkat
profitabilitas negatif, yang artinya pendapatan dari usaha operasionalnya tidak
dapat menutupi beban operasionalnya seperti yang dialami oleh PT.AIJ.
Ukuran
kinerja lainnya dapat diukur dari kemampuan perusahaan daerah meningkatkan
nilai perusahaan dari modal yang diberikan. Pendekatan ini dilakukan dengan cara membandingkan penyertaan modal
yang telah diberikan Pemerintah Provinsi dengan dengan nilai aktiva Perusahaan.
Idealnya yang dibandingkan adalah modal yang diberikan dengan nilai usaha dari
perusahaan, namun karena sebagian BUMD Sumut secara nilai usaha dapat dikatakan
tidak bernilai, maka pendekatan yang mudah adalah membandingkan antara modal
yang diberikan dengan nilai aktivanya saja. Dengan pendekatan tersebut berdasarkan
data yang ada, maka diperoleh data dimana Bank Sumut mampu meningkatkan nilai
aktiva sebesar 21 kali dari nilai modal yang diberikan, selanjutnya PT. KIM
dan PT. Askrida meningkatkan nilai
aktiva sekitar 3 kali dari nilai modal yang diberikan, PDAM Tirtanadi dan PT.
Perkebunan Sumut sekitar 2 kali dari nilai modal, dan yang lainnya yaitu PD.
AIJ, PT. DS, dan PT. PPSU tidak dapat meningkatkan nilai modal yang diberikan
kepadanya.
Solusi
Memperbaiki Kinerja BUMD Sumut
BUMD yang kinerjanya tumbuh positif,
terlihat adanya berbagai kegiatan diversifikasi usaha yang terus menerus
dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan sumber-sumber pendapatan yang
dimiliki. Upaya positif ini terlihat di Bank Sumut, PT. KIM dan PT. Dhirga
Surya
Hal
yang sama tidak terlihat di BUMD yang lain, seperti PDAM Tirtanadi yang sejak
awal didirikan hanya menjual air bersih dan sampai sekarang hanya menjual air
bersih saja. Padahal dengan sebaran asset yang dimiliki PDAM Tirtanadi seharusnya
dapat menambah berbagai sumber-sumber pendapatan lainnya dan meningkatkan nilai
usaha perusahaannya. Demikian juga dengan PT. AIJ yang tidak dapat mengikuti
persaingan percetakan yang ada apalagi dengan era digital printing sekarang PT.AIJ semakin jauh dari “maunya” pasar.
Padahal dengan potensi asset yang begitu banyak seharusnya PD. AIJ dapat dengan
mudah menambah berbagai sumber-sumber pendapatan dan tidak hanya berpangku
kepada mesin percetakan yang sudah ketinggalan jaman. Sebenarnya sangat mudah
bagi PT. AIJ untuk hidup kembali dari mati surinya, langkah awal yang mudah tentu
memanfaatkan captive market yang
dimiliki dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk membesarkan perusahaan, maka
setidaknya gerbang PT. AIJ yang selama ini tertutup dan berkarat dapat dibuka
kembali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar