Jumat, 07 Oktober 2016

BUMD PemprovSU, Ada tapi TIADA

BUMD PemprovSU, Ada tapi TIADA
Oleh : Sirajuddin Gayo, ST., MM.
BUMD atau Perusahaan Daerah tujuannya adalah untuk melaksanakan pembangunan daerah melalui pelayanan jasa kepada masyarakat, penyelenggaraan kemanfaatan umum dan peningkatan penghasilan pemerintah daerah. Namun pada kenyataan Seringkali BUMD justru bukan memberikan kontribusi kepada PAD melainkan membebani keuangan daerah. Dalam beberapa kasus kondisinya seperti kerakap diatas batu, hidup segan mati tidak mau. Keberadaannya terlihat ada namun tak pernah terasa ada. Kondisi tersebut terjadi juga pada BUMD milik Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, perusahaannya masih ada namun sudah dianggap tiada bahkan dalam laporan Akhir Tahun Gubsu yang disampaikan dalam LKPJ akhir Tahun 2015, nama BUMD tersebut bahkan ada yang sudah hilang dalam daftar, selain itu ada juga namanya masih ada terdaftar namun kontribusi terhadap PAD nya sudah sekian tahun selalu NOL. Perusahaannya sesungguhnya masih Ada namun sudah dianggap TIADA.
Kinerja BUMD Sumatera Utara secara keseluruhan mencapai kinerja terbaiknya pada tahun 2011, kontribusinya terhadap PAD mencapai 7%, Namun setelah tahun 2011 tersebut pendapatan BUMD terus menerus menurun, pada  tahun 2011 kontribusi BUMD terhadap PAD Sumut sebesar Rp. 289 milyar lebih, Tahun 2012 menurun menjadi Rp. 263 milyar lebih, tahun  2013 sebesar Rp. 229 milyar lebih, dan tahun 2014 semakin terus menurun Rp. 156 milyar lebih. Saya berani mengatakan kalau seandainya tidak ada kecelakan politik dan hukum yang terjadi pada pertengahan tahun 2015, maka kontribusi BUMD terhadap PAD tersebut masih akan terus menurun, namun kita patut bersyukur, kecelakaan politik dan hukum yang mendera para petinggi Sumatera Utara membelokan arah tersebut, dan pada tahun 2015 dividen BUMD terhadap PAD kembali menaik menjadi Rp. 250 Milyar lebih. Walaupun bila dibedah lebih jauh, pendapatan tersebut 93% nya berasal dari setoran deviden PT. Bank Sumut. Artinya 7 BUMD lainnya hanya berkontribusi 7% dari pendapatan yang 250 Milyar tersebut.



Disparitas BUMD Sumuti

Adanya disparitas yang sangat tajam antara beberapa BUMD. Sebut saja misalnya kinerja Bank Sumut dibandingkan dengan 7 BUMD lainnya. Bank Sumut telah mampu memberikan kontribusi PAD yang sangat besar bagi Pemerintah Propinsi, Kabupaten dan Kota. Berbeda dengan BUMD lainnya yang bahkan ada yang tidak mampu memberikan kontribusi apapun terhadap PAD Sumut.
            PDAM. Tirtanadi dengan beban Public Service Obligation (PSO) memang tidak bisa kita bandingkan dengan BUMD lainnya. Namun paling tidak antara PD. Perkebunan dengan Bank Sumut misalnya, dapat kita lihat sebagai pembenaran betapa jurang disparitas sangat lebar antara BUMD yang kita miliki. Data LKPJ Akhir Tahun 2015, dari 250 Milyar kontribusi terhadap PAD, PT. Bank Sumut 93,42%, PD. Perkebunan 5,99%, PT. KIM 0,37%, PT.DS 0,14%, Askrida 0,08% dan 2 BUMD lainnya (PT.PPSU dan PT. AIJ) berkontribusi NOL Persen.

Membedah Kinerja BUMD SUMUT
Kinerja Perusahaan Daerah Sumatera Utara dapat diukur melalui tiga ukuran kinerja yaitu : 1) kontribusinya  terhadap PAD; 2) tingkat probitabilitasnya dan  3) tingkat kapitalisasi terhadap modalnya..
Periode 2009 s/d 2011, Kontribusi Bank Sumut terhadap PAD selalu diatas 5%, periode 2012 s/d 2014 kontribusi Bank Sumut 4,8%, terus menurun 4,3% dan menurun lagi menjadi 2,83%, baru pada 2015 kembali naik menjadi 4,8%.
Untuk PD. Perkebunan kontribusi 2011 masih 0,57% namun seiring berjalan waktu setiap tahun kontribusinya terus menerus menurun dan di tahun 2015 kontribusinya tinggal 0,31% saja. Dan kondisi ini dialami oleh seluruh BUMD Sumatera Utara lainnya yang memberikan kontribusi yang terus menerus menurun dari 2011 s/d 2015. Prestasi yang membaik hanya ditunjukan oleh PT. Dhirga Surya (DS) dimana kontribusi di tahun 2014 mencapai 0,0037% di tahun 2015 tumbuh menjadi 0,0075%.
            Berdasarkan             Ukuran kinerja tingkat profitabitabilitas atau kemampuan perusahaan daerah menghasilkan profit dari unit-unit operasional yang dikelolanya. Berdasarkan data yang ada,  PT. KIM memiliki tingkat profitabilitas sebesar 197%, kemudian diikuti oleh Bank Sumut sebesar 128%, PT. Askrida 55%, PT. Perkebunan Sumut 13%. Sedangkan BUMD lainnya memiliki tingkat profitabilitas negatif, yang artinya pendapatan dari usaha operasionalnya tidak dapat menutupi beban operasionalnya seperti yang dialami oleh PT.AIJ.
            Ukuran kinerja lainnya dapat diukur dari kemampuan perusahaan daerah meningkatkan nilai perusahaan dari modal yang diberikan. Pendekatan ini dilakukan  dengan cara membandingkan penyertaan modal yang telah diberikan Pemerintah Provinsi dengan dengan nilai aktiva Perusahaan. Idealnya yang dibandingkan adalah modal yang diberikan dengan nilai usaha dari perusahaan, namun karena sebagian BUMD Sumut secara nilai usaha dapat dikatakan tidak bernilai, maka pendekatan yang mudah adalah membandingkan antara modal yang diberikan dengan nilai aktivanya saja. Dengan pendekatan tersebut berdasarkan data yang ada, maka diperoleh data dimana Bank Sumut mampu meningkatkan nilai aktiva sebesar 21 kali dari nilai modal yang diberikan, selanjutnya PT. KIM dan  PT. Askrida meningkatkan nilai aktiva sekitar 3 kali dari nilai modal yang diberikan, PDAM Tirtanadi dan PT. Perkebunan Sumut sekitar 2 kali dari nilai modal, dan yang lainnya yaitu PD. AIJ, PT. DS, dan PT. PPSU tidak dapat meningkatkan nilai modal yang diberikan kepadanya.

Solusi Memperbaiki Kinerja BUMD Sumut
BUMD yang kinerjanya tumbuh positif, terlihat adanya berbagai kegiatan diversifikasi usaha yang terus menerus dilakukan untuk mempertahankan dan meningkatkan sumber-sumber pendapatan yang dimiliki. Upaya positif ini terlihat di Bank Sumut, PT. KIM dan PT. Dhirga Surya
            Hal yang sama tidak terlihat di BUMD yang lain, seperti PDAM Tirtanadi yang sejak awal didirikan hanya menjual air bersih dan sampai sekarang hanya menjual air bersih saja. Padahal dengan sebaran asset yang dimiliki PDAM Tirtanadi seharusnya dapat menambah berbagai sumber-sumber pendapatan lainnya dan meningkatkan nilai usaha perusahaannya. Demikian juga dengan PT. AIJ yang tidak dapat mengikuti persaingan percetakan yang ada apalagi dengan era digital printing sekarang PT.AIJ semakin jauh dari “maunya” pasar. Padahal dengan potensi asset yang begitu banyak seharusnya PD. AIJ dapat dengan mudah menambah berbagai sumber-sumber pendapatan dan tidak hanya berpangku kepada mesin percetakan yang sudah ketinggalan jaman. Sebenarnya sangat mudah bagi PT. AIJ untuk hidup kembali dari mati surinya, langkah awal yang mudah tentu memanfaatkan captive market yang dimiliki dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk membesarkan perusahaan, maka setidaknya gerbang PT. AIJ yang selama ini tertutup dan berkarat dapat dibuka kembali.

Penulis praktisi bisnis dan Peserta Program Doktor PW USU

Tidak ada komentar: