KINERJA
PENDAPATAN SUMUT
KINI
DI JALAN YANG BENAR
Oleh : Sirajuddin Gayo, ST., MM.
Kinerja Pendapatan
Sumatera Utara sejak kepemimpinan di ambil alih PLT. Gubernur TE (HT. Erry
Nuradi) pada akhir tahun 2015, terlihat mulai berjalan di jalan yang benar. Indikasi
kembalinya PAD ke jalan yang benar terlihat dari terlampuinya target pada Tahun
2015 setelah sejak tahun 2012 tidak pernah mencapai target yang ditetapkan.
Peningkatan yang paling signifikan terlihat dari peningkatan Pajak Air
Permukaan dan peningkatan dari sektor retribusi yang meningkat tajam.
Peningkatan berbagai sektor pendapatan mulai terasa meningkat signifikan pada
triwulan ke empat Tahun 2015, yang kebetulan kepemimpinan sudah diambil alih
oleh Plt. Gubernur.
Harus diakui bahwa kinerja Pendapatan Sumatera Utara mulai
memburuk sejak kepemimpinan diambil alih oleh PLT. Gubernur GP. Kinerja
memburuk ini nyaris tidak terlihat karena tertolong adanya kebijakan pajak
kendaraan progresif yang mulai dinikmati pada tahun 2011 dan limpahan dana BOS
yang mulai masuk ke APBD tahun 2012. Periode 2012-2014, target PAD hanya
mencapai 92,88%, 77,39% dan 84,85%. Pada semester pertama tahun 2015, trend
kegagalan pencapaian PAD terlihat masih akan berlajut, namun kecelakaan politik
dan hukum yang terjadi membelokan arah perjalanan pencapaian PAD. Tiga bulan
terakhir 2015 progres perolehan PAD mulai berjalan di jalan yang benar,
perolehan Pajak APU meningkat tajam sebesar 586% dari tahun sebelumnya. Pajak
Kendaraan Bermotor mulai tumbuh positif sebesar 100,42%. Demikian juga dengan kontribusi
Retribusi terhadap PAD meningkat 139,30%. Perjalanan perolehan PAD 3 bulan terakhir 2015
menunjukan arah perjalanan telah berada di jalan yang benar dan harus diakui
bahwa membaiknya perolehan PAD tersebut adalah peran kepemimpinan tertinggi
sehingga pada akhir tahun anggaran PAD mencapai 104,44%
Periode 2011-2014
Periode kepemimpinan 2011-2104 adalah periode gelap dalam
kepemimpinan kinerja pendapatan dan belanja di Sumatera Utara. Tahun 2011
kinerja buruk ini nyaris tidak terlihat karena tertolong dengan limpahan pajak
kendaraan progresif yang mulai berlaku, dan 2012 kinerja buruk pendapatan
kembali nyaris tidak terlihat karena tertolong oleh masuknya dana BOS dalam
APBD Sumatera Utara, namun bila ditelisik lebih jauh pendapatan-pendapatan dari
sektor lain turun secara drastis. Salah satunya adalah pendapatan yang berasal
dari kontribusi BUMD Sumatera Utara yang sejak tahun 2011 merupakan pendapatan
tertinggi mencapai 289 milyar. Setelah itu berturut-turut sampai dengan tahun
2014 mengalami pertumbuhan negatif 91,20%, 86,88% dan terus merosot hanya
mencapai 68,13%. Padahal di era Gubernur SA pertumbuhan kontribusi BUMD selalu
positif sejak tahun 2009 tumbuh 123,61%, tahun 2010 tumbuh sebesar 171,54% dan tahun
2011 yang merupakan era keemasan kontribusi BUMD terhadap PAD yang mencapai
174,07%. Setelah periode tersebut terus tumbuh negatif yang pada akhir tahun
anggaran 2014 kontribusi BUMD hanya 156
milyar atau hilang 133 milyar dari Tahun 2011. Pada tahun 2015, sampai dengan
evaluasi anggaran triwulan ke tiga 2015, trend negatif ini terlihat masih akan
terus berlanjut. Namun pada tiga bulan terakhir 2015 pendapatan dari Bank Sumut
digenjot habis sehingga kontribusi PAD dari BUMD mencapai 250 milyar dengan
kontribusi dividen dari Bank Sumut mencapai 93,49% dan hasilnya kontribusi BUMD
terhadap PAD kembali tumbuh positif sebesar 160,35%.
Kinerja buruk lainnya dalam perolehan pendapatan adalah tingginya
angka kebocoran pada perolehan retribusi, dimana pada tahun 2012 retribusi masih
tumbuh positif sebesar 107,2%, namun pada tahun tahun 2013 dan 2014 mengalami
pertumbuhan negatif yaitu 99,67% dan 77,76%, yang artinya tingkat kebocoran
perolehan retribusi terus membesar. Pada tahun 2015 sampai dengan semester
pertama, trend penurunan kontribusi retribusi masih belum membaik, namun 3
bulan terakhir 2015, berbagai upaya yang dilakukan untuk menekan angka
kebocoran perolehan retrisbusi, sehingga pada akhir tahun anggaran 2015,
retribusi tumbuh positif dan mencapai titik tertingginya yaitu 139,30%.
Selain dari sisi pendapatan, pada sisi belanja periode 2011-2014
merupakan sisi belanja dengan kinerja terburuk juga. Rendahnya penyerapan
anggaran terlihat jelas dari tingginya angka SILPA. SILPA pada tahun 2011
mencapai 396 milyar lebih dan tahun 2012 kembali meningkat tajam menjadi 705
milyar lebih. Memang pada tahun 2013 SILPA sangat rendah hanya mencapai 276
milyar dan merupakan titik terendah SILPA, namun bila dibedah lebih jauh,
prestasi rendahnya SILPA pada tahun 2013 bukan karena membaiknya penyerapan
anggaran yang sesungguhnya, namun rendahnya SILPA pada tahun 2013 sesungguhnya
karena tingginya belanja tidak langsung yang berfokus pada besarnya belanja
Bantuan Sosial, Belanja Hibah dan Dana Bantuan Daerah Bawahan yang besarnya melebihi
belanja langsung untuk pembangunan.
Periode Tahun Anggaran 2015
Sebagaimana telah diungkapkan diatas, pada Tahun Anggaran 2015
sampai dengan evaluasi anggaran semester pertama, trend pertumbuhan negatif
masih terlihat akan berlanjut. Rendahnya perolehan pajak daerah dari seluruh
sektor, termasuk rendahnya perolehan pajak kendaraan bermotor, rendahnya
kontribusi BUMD dan Retribusi Daerah yang sampai dengan semester pertama Tahun
2015 bahkan belum terlihat, merupakan masalah-masalah besar yang terungkap dari
evaluasi anggaran semester pertama Tahun 2015. Namun kehendak dan takdir
Sumatera Utara berkata lain, kecelakaan politik dan hukum yang terjadi begitu
besar di Sumatera Utara pada Semester kedua Tahun 2015 memberikan dampak
positif untuk perbaikan kinerja pendapatan Sumatera Utara. Tiga bulan terakhir
2015, sektor-sektor Pendapatan Asli Daerah Sumatera Utara tumbuh dengan cepat
dan signifikan, demikian juga kebocoran-kebocoran pada sisi retribusi ditekan
begitu kuatnya sehingga retribusi bisa tumbuh dengan baik dan berkontribusi
terhadap PAD. Peningkatan kontribusi retribusi terhadap PAD biasanya
kontraproduktif dengan pertumbuhan dunia usaha, namun yang dilakukan Pemerintah
Provinsi Sumatera Utara pada tiga bulan terakhir tahun 2015, peningkatan retribusi
tanpa menyakiti dunia usaha karena dilakukan dengan menekan berbaga angka
kebocoran retribusi. Sehingga perjalanan pendapatan Sumatera Utara pada tahun
2015 dapat dikatakan telah kembali ke jalan yang benar (on the track).
Panitia Khusus pembahasan LKPJ Akhir Tahun Anggaran 2015 yang
dilakukan DPRD Sumatera Utara baru-baru ini memberikan penilaian yang berbeda.
Namun bila ditelisik lebih jauh penilaian Panitia Khusus berfokus kepada
rendahnya kinerja komunikasi, koordinasi dan supervisi Pemerintah Provinsi
Sumatera Utara yang dinilai merupakan masalah besar dalam pengelolaan Sumatera
Utara hari ini. Kinerja dari sisi pencapaian pendapatan tidak diungkap terlalu
jauh. Selain itu pencapaian indikator kinerja hampir dari seluruh program
prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD tidak ada yang tercapai bahkan dapat dinilai
jauh panggang dari api. Fakta yang sama sebenarnya juga terlihat dari sisi
kinerja pendapatan. Kinerja pendapatan masih jauh dari pencapaian yang
ditetapkan dalam RPJMD 2013-2018, dan ini lah yang menjadi titik berat perhatian
Panitia Khusus LKPJ DPRD Sumatera Utara yang memberikan penilaian gagal
terhadap kepemimpinan Gubernur Sumatera Utara Tahun 2015. Namun bila diteliti
lebih jauh, upaya-upaya Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada tiga bulan
terakhir Tahun 2015 telah berhasil mengembalikan perjalanan kinerja pendapatan
pada jalur yang benar.
Penulis adalah Praktisi Ekonomi dan
Peserta Program Doktor PW USU
Email: gayo72@gmail.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar