Jumat, 07 Oktober 2016

KINERJA PENDAPATAN SUMUT KINI DI JALAN YANG BENAR

KINERJA PENDAPATAN SUMUT
KINI DI JALAN YANG BENAR
Oleh  : Sirajuddin Gayo, ST., MM.

                Kinerja Pendapatan Sumatera Utara sejak kepemimpinan di ambil alih PLT. Gubernur TE (HT. Erry Nuradi) pada akhir tahun 2015, terlihat mulai berjalan di jalan yang benar. Indikasi kembalinya PAD ke jalan yang benar terlihat dari terlampuinya target pada Tahun 2015 setelah sejak tahun 2012 tidak pernah mencapai target yang ditetapkan. Peningkatan yang paling signifikan terlihat dari peningkatan Pajak Air Permukaan dan peningkatan dari sektor retribusi yang meningkat tajam. Peningkatan berbagai sektor pendapatan mulai terasa meningkat signifikan pada triwulan ke empat Tahun 2015, yang kebetulan kepemimpinan sudah diambil alih oleh Plt. Gubernur.
Harus diakui bahwa kinerja Pendapatan Sumatera Utara mulai memburuk sejak kepemimpinan diambil alih oleh PLT. Gubernur GP. Kinerja memburuk ini nyaris tidak terlihat karena tertolong adanya kebijakan pajak kendaraan progresif yang mulai dinikmati pada tahun 2011 dan limpahan dana BOS yang mulai masuk ke APBD tahun 2012. Periode 2012-2014, target PAD hanya mencapai 92,88%, 77,39% dan 84,85%. Pada semester pertama tahun 2015, trend kegagalan pencapaian PAD terlihat masih akan berlajut, namun kecelakaan politik dan hukum yang terjadi membelokan arah perjalanan pencapaian PAD. Tiga bulan terakhir 2015 progres perolehan PAD mulai berjalan di jalan yang benar, perolehan Pajak APU meningkat tajam sebesar 586% dari tahun sebelumnya. Pajak Kendaraan Bermotor mulai tumbuh positif sebesar 100,42%. Demikian juga dengan kontribusi Retribusi terhadap PAD meningkat 139,30%.  Perjalanan perolehan PAD 3 bulan terakhir 2015 menunjukan arah perjalanan telah berada di jalan yang benar dan harus diakui bahwa membaiknya perolehan PAD tersebut adalah peran kepemimpinan tertinggi sehingga pada akhir tahun anggaran PAD mencapai 104,44%

Periode 2011-2014
Periode kepemimpinan 2011-2104 adalah periode gelap dalam kepemimpinan kinerja pendapatan dan belanja di Sumatera Utara. Tahun 2011 kinerja buruk ini nyaris tidak terlihat karena tertolong dengan limpahan pajak kendaraan progresif yang mulai berlaku, dan 2012 kinerja buruk pendapatan kembali nyaris tidak terlihat karena tertolong oleh masuknya dana BOS dalam APBD Sumatera Utara, namun bila ditelisik lebih jauh pendapatan-pendapatan dari sektor lain turun secara drastis. Salah satunya adalah pendapatan yang berasal dari kontribusi BUMD Sumatera Utara yang sejak tahun 2011 merupakan pendapatan tertinggi mencapai 289 milyar. Setelah itu berturut-turut sampai dengan tahun 2014 mengalami pertumbuhan negatif 91,20%, 86,88% dan terus merosot hanya mencapai 68,13%. Padahal di era Gubernur SA pertumbuhan kontribusi BUMD selalu positif sejak tahun 2009 tumbuh 123,61%, tahun 2010 tumbuh sebesar 171,54% dan tahun 2011 yang merupakan era keemasan kontribusi BUMD terhadap PAD yang mencapai 174,07%. Setelah periode tersebut terus tumbuh negatif yang pada akhir tahun anggaran 2014  kontribusi BUMD hanya 156 milyar atau hilang 133 milyar dari Tahun 2011. Pada tahun 2015, sampai dengan evaluasi anggaran triwulan ke tiga 2015, trend negatif ini terlihat masih akan terus berlanjut. Namun pada tiga bulan terakhir 2015 pendapatan dari Bank Sumut digenjot habis sehingga kontribusi PAD dari BUMD mencapai 250 milyar dengan kontribusi dividen dari Bank Sumut mencapai 93,49% dan hasilnya kontribusi BUMD terhadap PAD kembali tumbuh positif sebesar 160,35%.
Kinerja buruk lainnya dalam perolehan pendapatan adalah tingginya angka kebocoran pada perolehan retribusi, dimana pada tahun 2012 retribusi masih tumbuh positif sebesar 107,2%, namun pada tahun tahun 2013 dan 2014 mengalami pertumbuhan negatif yaitu 99,67% dan 77,76%, yang artinya tingkat kebocoran perolehan retribusi terus membesar. Pada tahun 2015 sampai dengan semester pertama, trend penurunan kontribusi retribusi masih belum membaik, namun 3 bulan terakhir 2015, berbagai upaya yang dilakukan untuk menekan angka kebocoran perolehan retrisbusi, sehingga pada akhir tahun anggaran 2015, retribusi tumbuh positif dan mencapai titik tertingginya yaitu 139,30%.
Selain dari sisi pendapatan, pada sisi belanja periode 2011-2014 merupakan sisi belanja dengan kinerja terburuk juga. Rendahnya penyerapan anggaran terlihat jelas dari tingginya angka SILPA. SILPA pada tahun 2011 mencapai 396 milyar lebih dan tahun 2012 kembali meningkat tajam menjadi 705 milyar lebih. Memang pada tahun 2013 SILPA sangat rendah hanya mencapai 276 milyar dan merupakan titik terendah SILPA, namun bila dibedah lebih jauh, prestasi rendahnya SILPA pada tahun 2013 bukan karena membaiknya penyerapan anggaran yang sesungguhnya, namun rendahnya SILPA pada tahun 2013 sesungguhnya karena tingginya belanja tidak langsung yang berfokus pada besarnya belanja Bantuan Sosial, Belanja Hibah dan Dana Bantuan Daerah Bawahan yang besarnya melebihi belanja langsung untuk pembangunan.

Periode Tahun Anggaran 2015
Sebagaimana telah diungkapkan diatas, pada Tahun Anggaran 2015 sampai dengan evaluasi anggaran semester pertama, trend pertumbuhan negatif masih terlihat akan berlanjut. Rendahnya perolehan pajak daerah dari seluruh sektor, termasuk rendahnya perolehan pajak kendaraan bermotor, rendahnya kontribusi BUMD dan Retribusi Daerah yang sampai dengan semester pertama Tahun 2015 bahkan belum terlihat, merupakan masalah-masalah besar yang terungkap dari evaluasi anggaran semester pertama Tahun 2015. Namun kehendak dan takdir Sumatera Utara berkata lain, kecelakaan politik dan hukum yang terjadi begitu besar di Sumatera Utara pada Semester kedua Tahun 2015 memberikan dampak positif untuk perbaikan kinerja pendapatan Sumatera Utara. Tiga bulan terakhir 2015, sektor-sektor Pendapatan Asli Daerah Sumatera Utara tumbuh dengan cepat dan signifikan, demikian juga kebocoran-kebocoran pada sisi retribusi ditekan begitu kuatnya sehingga retribusi bisa tumbuh dengan baik dan berkontribusi terhadap PAD. Peningkatan kontribusi retribusi terhadap PAD biasanya kontraproduktif dengan pertumbuhan dunia usaha, namun yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada tiga bulan terakhir tahun 2015, peningkatan retribusi tanpa menyakiti dunia usaha karena dilakukan dengan menekan berbaga angka kebocoran retribusi. Sehingga perjalanan pendapatan Sumatera Utara pada tahun 2015 dapat dikatakan telah kembali ke jalan yang benar (on the track).
Panitia Khusus pembahasan LKPJ Akhir Tahun Anggaran 2015 yang dilakukan DPRD Sumatera Utara baru-baru ini memberikan penilaian yang berbeda. Namun bila ditelisik lebih jauh penilaian Panitia Khusus berfokus kepada rendahnya kinerja komunikasi, koordinasi dan supervisi Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang dinilai merupakan masalah besar dalam pengelolaan Sumatera Utara hari ini. Kinerja dari sisi pencapaian pendapatan tidak diungkap terlalu jauh. Selain itu pencapaian indikator kinerja hampir dari seluruh program prioritas yang ditetapkan dalam RPJMD tidak ada yang tercapai bahkan dapat dinilai jauh panggang dari api. Fakta yang sama sebenarnya juga terlihat dari sisi kinerja pendapatan. Kinerja pendapatan masih jauh dari pencapaian yang ditetapkan dalam RPJMD 2013-2018, dan ini lah yang menjadi titik berat perhatian Panitia Khusus LKPJ DPRD Sumatera Utara yang memberikan penilaian gagal terhadap kepemimpinan Gubernur Sumatera Utara Tahun 2015. Namun bila diteliti lebih jauh, upaya-upaya Pemerintah Provinsi Sumatera Utara pada tiga bulan terakhir Tahun 2015 telah berhasil mengembalikan perjalanan kinerja pendapatan pada jalur yang benar.
Penulis adalah Praktisi Ekonomi dan
Peserta Program Doktor PW  USU

 Email: gayo72@gmail.com

Tidak ada komentar: